Bank BNI Cetak Laba Bersih Rp 15,8 Triliun Per September 2023, Tumbuh 15,1% – Fintechnesia.com

Apartemen326 Dilihat


FinTechnesia.com | Kondisi global mengalami perubahan signifikan dalam satu hingga dua bulan terakhir. Terutama terkaitpeningkatan risiko geopolitik, tingginya imbal hasil obligasi di Amerika Serikat, dan perlambatan ekonomi di Tiongkok.

Dampaknya terhadap ekonomi domestik salah satunya terlihat dari volatilitas nilai tukar rupiah tahun berjalan. Namun demikian, stabilitas ekonomi dan sistem keuangan domestik relatif tetap terjaga, termasuk kinerja rupiah yang fluktuasinya tidak sedalam negara-negara berkembang lainnya.

Maka, Bank BNI mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga kinerja tetap solid. Program transformasi secara disiplin serta strategi pertumbuhan yang selektif dan terukur yang diambil, telah mampu menuntun perseroan untuk memberikan pendapatan yang optimal bagi para shareholder serta menjalankan fungsi intermediasi dengan baik.

Tercermin dari perolehan laba bersih BNI yang hingga September 2023 tumbuh sebesar 15,1% secara tahunan atau year on year (yoy), mencapai Rp 15,8 triliun, yang inline dengan market consensus.

Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar mengatakan, pencapaian laba yang baik ini didukung kinerja kredit yang mengalami akselerasi di kuartal ketiga. Akselerasi kredit ini membuat BNI mampu mencatatkan pertumbuhan kredit sampai dengan September 2023 sebesar 7,8% yoy menjadi Rp 671,4 triliun.

Didorong oleh ekspansi di segmen berisiko rendah, yaitu korporasi blue chip baik swasta dan BUMN, kredit konsumer, dan perusahaan anak.

Baca juga: RUPSLB Bank BNI Menyetujui Stock Split

“Sebagai dampak dari akselerasi kredit di segmen berisiko rendah, kualitas aset terus membaik. Terlihat dari penurunan rasio non performing loan (NPL) dan rasio loan at risk (LaR),” ujar Royke, Selasa (31/10).

Dengan demikian, rasio NPL per September telah berada di level 2,3% membaik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 3% dan LAR di level 14,4% yang membaik dibandingkan dengan posisi 19,3% pada September tahun 2022.

Baca Juga  Honda Jalin Kerjasama Dengan Isuzu, Ujicoba Truk Berbahan Bakar Hidrogen di Jepang - Fintechnesia.com

Kualitas aset yang terus membaik membuat perseroan dapat mengurangi pembentukan beban Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN). Hal ini membuat credit cost membaik dari 2,0% pada September 2022 menjadi 1,4% pada September tahun ini.

Di tengah naiknya risiko ekonomi global, BNI mengambil langkah prudent dengan membangun likuiditas yang kuat. Hingga September 2023, dana pihak ketiga (DPK) tercatat tumbuh 9,1% YoY, mencapai Rp747,6 triliun.

Adapun tren kenaikan suku bunga acuan yang mempengaruhi biaya bunga dana alias cosftof fund (CoF) memang tengah mengalami tren peningkatan dan fenomena ini terjadi merata di industri perbankan.

“Namun di tengah kondisi tersebut, kami bersyukur CoF kami saat ini di kisaran 2%, secara struktural masih lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi di atas 3%,” kata Royke.

Rasio kecukupan permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) terus meningkat dari 18,9% tahun lalu menjadi 21,9% per September 2023. Jauh di atas persyaratan modal minimum sebesar 13,8%. Tingginya rasio kecukupan permodalan ini memberikan BNI kemampuan memenuhi kebutuhan ekspansi bisnis dan investasi BNI Group.

Melalui agenda transformasi berkelanjutan, perseroan telah berhasil melakukan reorganisasi yang diharapkan membangun pola kerja yang lebih agile, kolaboratif, dan cermat dalam mengelola risiko.

Perseroan pun terus mendapat dampak positif dari penguatan end to end credit process. Penguatan peran dari anak usaha juga semakin positif dalam memberi kontribusi kinerja BNI Group. (kai)



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *